Ibu Septi Peni W : Role Model Ibu Profesional

Assalamu alaikum wr. wb

I wanna share one story here…

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani.

Kalau kalian search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Bukan, dia bukan seorang pejuang emansipasi wanita yang mengejar kesetaraan gender lalala itu. Bukan.

Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya.

Dalam sesi itu, beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like I’m watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.

Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. pada saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut.

Namun sang calon suami mengajukan persyaratan:

beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga.

Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran. Akhirnya beliaupun menikah. Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah. Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah.

Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren? Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga. Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah.

Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan? Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?

Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget. Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.

Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.

Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah.

Keren! Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20? :O

Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:

1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan

2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.

3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.

4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.

5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!

6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai

7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.

8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.

9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta

10. Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.

11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya. Daaaan masih banyak lagi.

Teman-teman yang tertarik bisa kepo twitter ibu @septipw atau gabung dan ikut kuliah online tentang keiburumahtanggaan di ibuprofesional.com.

Hhhhmmm. Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa. Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya. Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife.

So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas dapur, sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM?

Duh please, housewife is everything.

saya juga pernah mendengar, mengapa menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan mulia karena seorang perempuan yang memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga berarti mengorbankan selurh waktu dan hidupnya untuk mengabdi pada keluarga di saat ia dapat menggunakan waktunya untuk hal lain. Bukankah waktu adalah hal yang sangat berharga? Ya. Dan Ibu Septi ini membuktikan bahwa menjadi ibu rumah tangga pun bisa menebar inspirasi dan kebaikan bagi banyak orang.

Cerita nyata inspiratif ini Saya repost dari grup WA. Meskipun saya hanya mem-posting ulang dari grup WA, namun saya harap repostingan saya ini bermanfaat dan dibaca banyak orang.

-@Pratizaa

Hal Kecil + Bersyukur = Hal Luar Biasa

Assalamu alaikum wr wb. Ketemu lagi sama saya Pratiwi hamzah YOT CA IPB
Kali ini saya akan kembali berbagi melalui inspiring article April. Kali ini tentang pengalaman saya saat ke yayasan Fatahillah Cinere, untuk mengajar di sana dalam rangka YOT mengajar.
Lalu apa artinya “hal kecil + bersyukur = hal luar biasa” ? let me tell my experience first.
Awalnya, saya kira akan berangkat sendirian ke yayasan tersebut. Padahal saya sama sekali tidak tahu rute mana yang harus dilewati untuk sampai ke yayasan tersebut. Untung saja, ternyata ada salah satu YOT CA juga yang bisa menemani karena mendapat giliran saat itu seperti saya. Sayangnya, dia juga tidak tahu jalanan yang harus kami lewati untuk sampai sana. Satu-satunya petunjuk adalah alamat yayasan tersebut yaitu di Depok. So kami turun di stasiun depok.
Saat itu hujan turun sangat amat deras sementara saya tidak membawa payung dan sekali lagi,kami benar-benar tidak tahu jalan ke yayasan tersebut. Akhirnya, kami menembus hujan yang sangat deras dan memutuskan untuk naik taksi. Singkat cerita setelah muter-muter selama sekitar satu jam, sampailah kami di yayasan Fatahillah tersebut. YOT CA yang lain sudah disana dan kami sangat-sangat telat (regretting that :( )
Setelah itu, saya dipanggil oleh salah satu anak. Namanya Tiara, dia baru duduk di kelas 3 SD. Dia minta pada saya untuk diajari rumus phytagoras, tapi ternyata dia blum mengerti sudut, sisi dan jenis-jenis segitiga jadi saya mengajari itu dulu padanya. Setelah selesai mengajar, dia tersenyum dan berkata bahwa dia paham dan berterima kasih pada saya.
Kami foto-foto, pamitan kemudian pulang.
Mungkin terkesan biasa saja. Tapi, tahukah kalian? Ada banyak sekali hal yang bisa disyukuri dari setiap kejadian, sesederhana apapun kejadian tersebut, misalnya, saya bersyukur karena tidak ke Yayasan sendirian. Percaya atau tidak, semua hal jika kita bersedia berbagi dan dikerjakan bersama-sama akan terasa lebih ringan. Hal apapun itu, baik masalah, pekerjaan, termasuk kebahagiaan dan lain lain akan terasa lebih “nikmat” jika kita berbagi.
Termasuk ilmu (tapi bukan ujian :p ). Saya pribadi sangat senang saat adik yang saya ajar tersenyum dan bilang bahwa ia mengerti apa yang saya jelaskan. Padahal saya hanya menjelaskan matematika tentang sudut, sisi, segitiga dan rumus phytagoras. hanya itu! dengan berbagi hal sekecil itu, saya sudah membuat Tiara senang.
Manusia terbaik adalah yang selalu berusaha membuat orang lain senang. –anonim-
Banyak hal yang bisa kita syukuri. Dengan kesyukuran, hal kecil yang kita alami akan terasa luar biasa. Maka dari itu, mari berbagi kesyukuran yang kita punya dan mulai peduli. Karena kita pribadi yang tak hidup sendiri… :)

suasana mengajar di yayasan Fatahillah
Pratiwi Hamzah
YOT CA IPB

Dongeng si Sayap Kerdil

Dongeng si Sayap Kerdil

Perkenalkan, saya Pratiwi Hamzah, Young on Top Campus Ambassador dari IPB. Ini adalah artikel saya yang ke-7 sejak Agustus 2012. Pada artikel kali ini, saya akan sedikit mendongeng :)

Alkisah, di sebuah hutan, hiduplah keluarga burung. Suatu hari, Sang induk menetaskan beberapa telur menjadi burung-burung kecil yang indah dan sehat. Si induk pun sangat bahagia dan merawat mereka semua dengan penuh kasih sayang.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Burung-burung kecil inipun mulai dapat bergerak lincah. Mereka mulai belajar mengepakkan sayap, mencari-cari makanan untuk kemudian mematuknya.

Dari beberapa anak burung ini tampaklah seekor burung kecil yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia tampak pendiam dan tidak selincah saudara-saudaranya. Ketika saudara-saudaranya belajar terbang, ia lebih memilih diam di sarangnya daripada lelah dan terjatuh di luar sana, ketika saudara-saudaranya berkejaran mencari makan, ia memilih diam dan menantikan belas kasihan saudaranya. Demikian hal ini terjadi seterusnya.

Saat sang induk mulai menjadi tua dan tak sanggup lagi berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, si anak burung ini mulai merasa sedih. Seringkali ia melihat dari bawah saudara-saudaranya terbang tinggi di langit. Ketika saudara-saudarnya dengan lincah berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain di pohon yang tinggi, ia harus puas hanya dengan berada di satu dahan yang rendah. Ia pun merasa sangat sedih.

Dalam kesedihannya, ia menemui induknya yang sudah tua dan berkata, “Ibu, aku merasa sangat sedih, mengapa aku tidak bisa terbang setinggi saudara-saudaraku yang lain, mengapa akau tidak bisa melompat-lompat di dahan yang tinggi aku hanya bisa berdiam di dahan yang rendah?”
Si induk pun merasa sedih dan dengan air mata ia berkata, “Anakku, engkau dilahirkan dengan sayap yang sempurna seperti saudaramu, tapi engkau memilih merangkak menjalani hidup ini sehingga sayapmu menjadi kerdil.”

Oo0oO
Terinspirasi dari dongeng singkat ini, burung kecil itu ibarat seseorang yang semasa hidupnya terutama masa mudanya dihabiskan hanya untuk bermalas-malasan saja. Orang-orang seperti ini tidak menyadari bahwa secara tidak langsung, ia telah menabung kegagalan untuk masa depannya. Mereka telah diberi anugerah yang sangat banyak oleh Yang Maha Kuasa namun tak mereka manfaatkan sebaik mungkin. Mereka memilih untuk sekedar “menikmati” hidup tanpa mau berusaha menjadi lebih baik.
Hidup adalah kumpulan dari setiap pilihan yang kita buat. Pilihan kita hari ini menentukan bagaimana hidup kita di masa depan. Kita memiliki kebebasan memilih tetapi setelah itu kita akan dikendalikan oleh pilihan kita, jadi berpikirlah sebelum berbuat, sadari bahwa setiap pilihan yang kita buat ada konsekuensinya.

” dream in today is a reality of tomorrow “.
Imam Hasan Albanna,

Mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok. Kerja keras hari ini adalah kesuksesan hari esok. Lantas, sedang apa kita sekarang….???? maukah kita menjadi manusia yang “bersayap kerdil”….???

Artikel Inspiratif Januari : Be a Better Person

Be a Better Person

“Itu loh, si A yang sering ngejengkelin orang, cakep cakep kok angkuh. Trus kata-katanya kasar banget dan suka ngebentak orang lain. Pokoknya ga sopan deh. Attitudenya NOL!”

Pernah dengar keluhan seperti itu? Atau mungkin kita yang mengeluhkan sikap seseorang? Atau bahkan, tanpa kita sadari, ada banyak orang yang mengeluhkan sikap kita yang seperti itu? Jangan sampai deh.. Kita jelas tak mau seperti itu. Lalu apa yang mesti kita lakukan untuk menghindari hal itu? Tentunya berusaha untuk menjadi pribadi yang baik. Walaupun sulit untuk mengubah kebiasaan, tapi kita harus tetap berusaha untuk meminimalisir hal buruk yang ada pada diri kita. Caranya?

Introspeksi diri
Apa yang salah? Itu pertanyaan pertama yang harus kamu tanyakan pada diri sendiri. Jika tak bisa menemukan jawabannya, maka tanyakan hal tersebut pada orang orang terdekatmu. Selanjutnya analisislah apa yang mesti diubah dan bagaimana mengubahnya.

Mulailah mengubah diri dari hal yang paling kecil.
Misalnya saat kamu dijudge angkuh, buatlah perubahan dengan memberi senyuman dan bantuan. Saat kau disebut tukang terlambat, mulailah dengan melakukan setiap hal lebih awal sehingga keterlambatanmu bisa diminimalkan. saat kau dicemooh karena bodoh, mulailah belajar. Intinya mulailah dari hal yang paling kecil dan dasar. Karena hal-hal yang kecil adalah akar dari sesuatu yang besar.

Arah perjalanan seribu langkah ditentukan dari arah langkah pertamamu.

Keep on struggling
Dalam fisika, gaya gesek statis atau gaya yang dialami benda saat tepat akan bergerak lebih besar dibandingkan gaya gesek saat benda tersebut sudah bergerak. Dalam hal ini, akan lebih banyak halangan dan rintangan yang kamu hadapi saat memulai sesuatu yang baik. Tapi ketika sudah dijalani, halangan dan rintangan itu justru menjadi tantangan tersendiri yang dapat memicu kamu untuk tetap melakukan perubahan yang lebih baik dan segalanyapun akan jauh terasa ringan. Just keep on struggling dan katakan pada dunia, INI MUDAH!

Selalu ada dampak yang ditimbulkan oleh sebuah perubahan. Saat kamu tengah berusaha melakukan perubahan itu, orang-orang sekitarmu pasti akan kasak kusuk membicarakan dirimu. Mungkin pertanyaan yang diawali kata tumben akan sering kamu dengar. Tumben senyum,mimpi apa lo semalem? Tumben on time, jam lo mati? Dan sebagainya. Pertanyaan dan cemoohan seperti itu tidak usah kamu pedulikan. Jangan takut sama apa yang dikatakan orang lain tentang kamu saat kamu mau menjadi lebih baik. Ga mau kan terus-terusan dikenal sebagai si A yang attitude-nya nol? Maka dari itu, lakukan perubahan sekarang juga and, just be yourself, be a better personal…
be a better person

Antara Gaul, Remaja, Era dan Narkotika di Indonesia

Antara Gaul, Remaja, Era dan Narkotika
di Indonesia

Gaul, adalah kata yang tidak bisa dipisahkan dengan remaja, apalagi di zaman seperti sekarang ini. Kenapa? Karena bagi remaja zaman sekarang, gaul itu sangat penting dan merupakan keharusan. Kok bisa? Soalnya, bagi remaja-yang tentunya hidup di zaman sekarang, gaul itu adalah pintu gerbang buat bisa jadi modern, trendy, punya banyak teman dan tentunya populer alias tenar. Nah, untuk mendapat predikat gaul itu, para remaja menghalalkan segala cara. Mulai dari cara yang emang halal sampai yang ngga halal sekalipun. Mulai dari jalur prestasi sampai yang jalur kebobrokan. Yang penting bagi mereka hanya ketenaran dan yang itu tadi, gaul.
Bagi remaja yang menginginkan gelar gaul dengan jalur prestasi itu wajar. Tetapi sekarang yang jadi masalah adalah para remaja yang ingin meraih gelar gaul tersebut dengan cara yang salah. Misalnya dengan berbahasa kurang sopan, merokok, berdandan ala preman biar disangka hebat, minum minuman beralkohol lalu mabuk-mabukan di tempat umum serta berbagai macam aktivitas yang bagi mereka menunjukkan ke-gaul-an namun sebenarnya lebih mengarah ke premanisme yang sangat meresahkan masyarakat. Bahkan, fenomena yang makin marak di kalangan remaja adalah nge-drugs alias menggunakan narkoba atau obat-obatan terlarang.
Sebenarnya gaul itu apa sih? Dan kenapa remaja harus gaul? Lalu apa hubungannya dengan narkoba? Berbagai pertanyaan pasti muncul di benak kita tentang kata gaul dan eksistensinya di kalangan remaja. Sekedar info, gaul itu adalah sebuah ragam bahasa yang dulunya dikenal dengan sebutan bahasa prokem dan berkembang di tahun 1980-an. Bahasa prokem ini dikenal sebagai bahasa preman dan anak jalanan. Namun sekarang berasimilasi menjadi suatu bahasa, kata dasar yang multi tafsir-tergantung dari imbuhannya, dan pola bersikap modernisme seperti yang kita kenal sekarang.
Sekali lagi, tidak ada yang salah ketika kita sebagai remaja ingin gaul. Gaul itu wajar, bahkan perlu, untuk mendapatkan banyak teman dan membangun networking. Tapi itu tadi, yang salah adalah cara yang kita untuk mendapat predikat tersebut. Mungkin karena dulunya berkembang di kalangan preman, kata gaul selalu diidentikkan dengan premanisme. Salah satunya pemakaian narkotika.
Di media dan kehidupan nyata, ketika seseorang menawarkan narkoba, dia akan berkata, “kalo lo ga mau nyoba ini berarti lo ga gaul” atau ketika seseorang melakukan pemalakan agar disebut gaul. Dengan kata lain orang tersebut mengaitkan gaul dengan premanisme dan narkotika. Masa 1980-an sudah lewat, Kawan. Kita sudah memasuki era globalisasi. Bukan masanya lagi mengaitkan kata gaul dengan hal-hal negatif lagi, apalagi narkotika. Narkotika hanya akan merusak hidup kita di segala aspek kehidupan. Narkotika hanya sebuah indikasi ketidakpedulian kita pada diri sendiri yang akan menjerumuskan kita ke dalam lumpur penyesalan yang teramat dalam.
Sekarang saatnya menjadi remaja yang gaul dengan cara bergaul yang benar dan membangun paradigma baru tentang arti gaul. Gaul di masa sekarang itu tidak lagi terkait dengan narkotik dan kawan-kawannya. Remaja gaul di era globalisasi itu adalah remaja yang berakhlak mulia, berjiwa pemimpin, berwawasan luas, punya kepedulian yang tinggi, selalu tampil oke, mengikuti perkembangan teknologi, punya soft skill yang bagus, cerdas, aktif, prestatif dan yang paling penting, jauuuh dari narkotika.
Ingat kawan, masa depan itu kau bangun dengan kedua tanganmu. Kau rancang dengan akalmu dan kau wujudkan dengan ilmu, perbuatan, hati, keikhlasan dan kepedulianmu. Bukan hanya masa depanmu, tapi masa depan bangsa Indonesia pun ada di tangan kita sebagai generasi muda penerus bangsa ini. Bagaimana nasib bangsa ini jika kita bahkan tak peduli dengan diri sendiri? So, say never to drugs!

#artikel ini dibuat saat TPB, sebagai tugas LFAD#

Bintang itu Berwarna Biru

siang itu jadi saksi. siang itu jadi sangsi. siang itu muncul bintang terang berwarna biru. menyapaku, tersenyum kemudian berlalu. apa maunya bintang itu? entahlah.. yang ku tahu, ia di benakku dalam nyata maupun mimpiku. lalu kemana aku harus pergi agar tak silau memandangnya? itupun entah.. aku gelap sedang ia terang. tak mampu hitam melenyapkan kemilaunya. ingin ia pergi, walau sanubari teriak tetaplah di sisi ini… <3

(APA INI? GAAAJEEEE!! ;P )

Sukses di Kampus? “Buanglah” Waktumu pada Tempatnya

Sukses di Kampus? “Buanglah” Waktumu pada Tempatnya

Mahasiswa identik dengan yang namanya kuliah (jelas),tugas, laporan, deadline dan rapat. Atau Anda seorang mahasiswa kedokteran, keperawatan, biokimia, farmasi, atau mahasiswa lain yang super sibuk,dan memiliki tugas-tugas yang menumpuk plus bejibun, udah kuliah dari pagi ampe sore, trus sore ampe malem sibuk ngurus organisasi ama yang lainnya, trus malemnya kerja sampingan nambah ongkos jajan dan yang lainnya dan yang lainnya? Wow… capek? Pastinya.. tapi jangan khawatir, itu adalah salah satu “tempaan” untuk “besi” biar tambah kuat 
Pokoknya anda yang ngerasa mahasiswa yang memiliki jadwal yang padat, selain kuliah, juga mengikuti kegiatan serta aktifitas tambahan, seperti organisasi, peluang bisnis atau yang lainnya. Pasti lah mahasiswa dituntut musti pandai-pandai manage waktunya, biar target belajar tidak jadi gagal. Nah, ini beberapa tips untuk “membuang” waktu kita pada tempatnya :
1. Identifikasi waktu terbaik pada setiap harinya.
Apakah Anda termasuk seorang “night person” atau “morning person”? Gunakan kekuatan waktu tersebut untuk belajar.
2. Belajar subyek yang sulit atau membosankan lebih dulu.
Dalam keadaan segar, informasi dapat diproses lebih cepat dan anda jadi lebih menghemat waktu. Alasan lainnya adalah lebih mudah mendapatkan motivasi untuk mempelajari sesuatu yang menyenangkan pada saat lelah daripada mempelajari subyek yang membosankan.
3. Pastikan bahwa lingkungan sekitar kondusif untuk belajar.
Perpustakaan adalah tempat yang baik untuk belajar karena satu-satunya yang bisa dilakukan di perpustakaan adalah belajar. Tetapi jika perpustakaan tidak memungkinkan untuk belajar (karena jam operasi yang terbatas, misalnya), carilah tempat (dan waktu) yang memang benar-benar jauh dari gangguan.
4. Jangan tinggalkan rekreasi dan hiburan.
Kuliah di perguruan tinggi tidak berarti anda harus belajar sepanjang waktu. Anda harus tetap mempunyai kehidupan sosial demi keseimbangan hidup anda. Jadi, tidak ada salahnya anda menjadwalkan berkunjung dan mengobrol dengan teman atau mengerjakan hobi anda yang lain. Enjoy your time 
5. Usahakan anda punya waktu tidur dan makan yang cukup dan berkualitas.
Tidur seringkali dianggap sebagai “bank” dalam manajemen waktu. Maksudnya, setiap kali anda mendapat tugas yang membutuhkan waktu cukup banyak, anda akan “mengambil” waktu tidur anda untuk mengerjakan tugas. Hal ini jelas tidak efektif karena anda pasti akan memerlukan waktu yang lebih banyak lagi untuk mengerjakan tugas karena tubuh anda kelelahan sehingga kurang konsentrasi. Jadi kebutuhan tidur anda haruslah tetap diperhatikan.
6. Manfaatkan waktu menunggu atau kombinasikan dua kegiatan.
Jika anda menggunakan transpotasi umum untuk pergi dan pulang dari kampus anda seringkali harus menunggu beberapa menit bahkan beberapa jam di halte atau peron. Mengapa tidak manfaatkan waktu menunggu tersebut untuk membaca? Bawalah catatan atau ringkasan kuliah kemana pun anda pergi dan baca setiap ada kesempatan meskipun hanya satu paragraf.
Jika anda menggunakan kendaraan pribadi, mobil misalnya, jangan membaca sambil mengemudi karena sangat berbahaya. Tapi tidak berarti tidak bisa belajar selama perjalanan. Dengarkan saja rekaman belajar anda sendiri dari kaset.
Nah, anda sekarang sudah mengetahui cara “membuang” waktu pada tempatnya kan?. Semoga bermanfaat dan selamat sukses di kampus 

Pemuda Jangan Mau Kalah Sama Bakteri ;)

Artikel inspiratif
By YOT CA IPB
Pratiwi Hamzah-

Pemuda Jangan Mau Kalah Sama Bakteri ;)

Lah, apa hubungannya?
Let’s analize it. Bakteri (dari kata Latin bacterium; jamak: bacteria) adalah kelompok organisme yang tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini termasuk ke dalam domain prokariota dan berukuran sangat kecil (mikroskopik), serta memiliki peran besar dalam kehidupan di bumi. Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai agen penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan kelompok lainnya dapat memberikan manfaat dibidang pangan, pengobatan, dan industri. Bakteri dapat ditemukan di hampir semua tempat: di tanah, air, udara, dalam simbiosis dengan organisme lain maupun sebagai agen parasit (patogen), bahkan dalam tubuh manusia. Bakteri bisa dilemahkan dengan menggunakan antibiotik.namun, pemberian antibiotik berlebih bisa membuat bakteri semakin kebal dan kebal bahkan menjadi makin kuat. Nah,singkatnya, kita analogikan bakteri sebagai pemuda, dan antibiotik sebagai kegagalan. Bakteri itu memiliki peran besar dalam kehidupan di bumi dan dapat ditemukan di hampir semua tempat. Pemuda juga demikian. Kita sebagai pemuda punya andil dalam kemajuan pembangunan di Indonesia bahkan di dunia. Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai agen penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan kelompok lainnya dapat memberikan manfaat dibidang pangan, pengobatan, . kita sebagai pemuda tinggal pilih mau jadi yang mana, yang bermanfaatkah atau malah yang pathogen? dan jika bakteri saja bisa kebal terhadap antibiotik, kenapa kita, pemuda mau menyerah pada kegagalan?

So, Pemuda Indonesia, Jangan mau kalah sama bakteri :P

Mencicipi Kegagalan Selezat Coklat

(artikel inspirasi kedua ku :) )

#Young On Top <3
Coklat. Siapa yang tak suka dengan makanan enak yang satu ini. Walau mengandung komposisi yang bisa membuat gemuk, makanan ini tetap menjadi cemilan favorit sebagian besar penduduk di dunia segala usia. Tentunya sangat berbeda dengan sesuatu non makanan yang namanya kegagalan. Siapa yang mau? Tentu tak ada! Tapi apakah kita bisa menghindari si kegagalan ini dalam hidup kita?
Saat sesuatu tak sesuai keinginan kita, saat sesuatu tak seperti yang kita harapkan, saat sesuatu terjadi jauh dari dugaan, misalnya ketika diputuskan, patah hati, dan sebagainya, kita pasti akan sangat sangat kecewa bahkan merasa bahwa hidup ini tak adil untuk kita. Kita akan terus merasa seperti itu dan terpuruk di dalam tempurung kekecewaan tersebut. Jika ditanya mengapa seperti itu, jawaban yang paling mungkin diucapkan adalah karena saya sudah gagal. Lalu apakah keterpurukan adalah akibat dari kagagalan? Menurut saya, BUKAN !
Ketika kita bersikap seperti ilustrasi di atas, sangat tidak pantas jika kita katakan bahwa dunia tak adil pada kita, melainkan kitalah yang tak adil pada hidup karena membiarkannya tenggelam di lubang keterpurukan yang kita gali sendiri. Apa salahnya sih gagal?? Trus, apa hubungannya dengan coklat? Hmm..
Artikel ini terinspirasi dari perkataan seorang teman, “sukses itu butuh tiket yang namanya gagal, tenang aja, rasanya enak kok”. Awalnya saya bingung maksud dari perkataan teman saya tersebut. Tapi, setelah mendengar cerita beliau yang bekali-kali gagal dalam menulis namun beliau tak menyerah, ia tetap berusaha, belajar dari kegagalan-kegagalan sebelumnya hingga akhirnya berhasil menjadi juara pertama dalam suatu perlombaan yang cukup bergengsi, saya menjadi tahu apa maksud dari kalimatnya tersebut. Kegagalan itu ada agar kita bisa terus belajar darinya, agar kita menjadi pribadi yang semakin paham akan kekurangan kita dan menjadikannya sebuah motivasi baru. Rasanya seperti coklat, jika kita nikmati, pahitnya takkan terasa, malah akan terasa sangat enak dan lezat.
Jadi, jika kita tanamkan dalam hati dan pikiran bahwa kegagalan bukanlah sebuah akhir melainkan sebuah tiket menuju kesuksesan, tak akan ada keterpurukan berlebih, yang ada hanya bagaimana kita bangkit, belajar, dan mulai berusaha lagi dan lagi…
Bagaimana, sudah siap mencicipi kegagalan senikmat coklat? :9

Selamat menikmati.. 

kisah inspirasi diri

Sesaat sebelum 17 September

Assalamu alaikum…

Ini kisah inspirasi kedua dari saya. Kisah yang saya ambil dari separuh perjalanan hidup saya (yang masih akan terus berlanjut. InsyaAllah.. amin..).

Salah satu hal yang paling sulit dari membuat suatu karya adalah memulainya. Sama seperti kasus saya sekarang yang bingung harus berkisah mulai dari mana…

Well, saya mulai dari perkenalan saja ya… =)

Nama saya Pratiwi Hamzah, biasa dipanggil Tiwi. Saya lahir dan besar di Sulawesi Selatan. Hmm,, jauh juga ya saya nyasar di IPB.. hehehe..

Tentunya itu bukan suatu kebetulan, tapi buah dari sebuah usaha..

Saya masuk IPB lewat jalur USMI-bebas tes, jalur yang bagi sebagian orang cukup wah- . ketika formulir USMI tiba di sekolah saya, saya sangat antusias untuk mendaftar. Nilai-nilai yang pas-pasan tidak menjadi penghalang bagi saya untuk mendaftar. Biaya formulir-biaya yang jumlahnya cukup besar, setidaknya bagi saya-  tersebut saya bayar dengan menggunakan uang tabungan yang saya kumpulkan sendiri. Agar tidak membebani orang tua.

Mungkin hidup saya flat2 saja. Terlahir dengan fisik cukup lemah(baca: sakit-sakitan), manja, cengeng dsb, -saya bahkan pernah tidak masuk sekolah selama kurang lebih 5 bulan karena sakit- toh saya tetap berani keluar dari zona nyaman saya dengan berani merantau ke kota ini jauh dari orang tua,.  Bagi saya, berani keluar dari zona nyaman adalah sebuah langkah besar untuk menuju suatu kesuksesan (amin). Padahal kan bisa saja, saya tetap di kampung saya, kuliah di sana dan tetap tinggal dengan orang tua. Tapi saya tahu, akan ada kemajuan yang lebih yang saya alami jika keluar dari zona nyaman saya tsb.

Sekarang, Alhamdulillah, saya sudah ada di IPB sebagai salah satu mahasiswi. Itulah suatu hasil yang saya dapatkan dari sikap tidak mudah menyerah pada keadaan dan berani untuk keluar dari area nyaman. Dan sebagai mahasiswa, saatnya berusaha lagi,.. berjuang lagi untuk menjadi lebih baik. Saya yakin, perjuangan kita semua akan membuahkan jalan untuk mencapai cita-cita…. Seperti yang selalu dikatakan oleh ibu bapak saya, dimana ada kemauan, disitu ada jalan asal dibarengi dengan usaha…

Sekian, Wassalam..